Generasi Emas Itu Bermula dari Pendidikan Anak Umur Awal

petuah lama menyebutkan kalau ” bila menginginkan merengkuh bambu jadi rengkuhlah dari rebungnya ” . Kalimat ini pas sekali kalau saat kita inginkan seseorang anak atau generasi yang baik nantinya jadi cermatilah pendidikan anak di umur awal. Anak umur awal seringkali dimaksud juga golden ageatau generasi emas.

Di mana pada generasi berikut semestinya nilai-nilai mulia mengenai kehidupan mesti ditanamkan. Seperti Friedrich Wilhem August Frobel sang pendiri Kindergarten atau di kenal jadi Probel School menyebutkan kalau ” Anak umur awal dimisalkan seperti tunas tumbuh-tumbuhan, masih tetap membutuhkan pemeliharaan serta perhatian seutuhnya dari si ” Juru Tanam ” . Probel School adalah Instansi Pendidikan Anak Umur Awal pertama di Dunia yang berdiri di Kota Blankerburg, Jerman.

Berdasar pada keterangan diatas jadi tidaklah heran sekarang ini perkembangan instansi Pendidikan Anak Umur Awal (PAUD) sangat penting. Dimana-dimana saat ini kita saksikan bermunculan instansi PAUD baik yang dilenggarakan oleh pemerintah ataupun dibawah yayasan. Ini tunjukkan keseriuasan beberapa pemerhati pendidikan mengenai perlunya pendidikan anak di umur awal.

Dengan pengertian Pendidikan Anak Umur Awal bisa dipahami jadi satu usaha pembinaan yang diperuntukkan pada anak mulai sejak lahir s/d umur enam th. yang dikerjakan lewat pemberian rangsangan pendidikan untuk menolong perkembangan serta perubahan jasmani serta rohani supaya anak mempunyai kesiapan dalam masuk pendidikan selanjutnya (UU Sisdiknas No. 20 Th. 2003) .

Mengenai dengan historis di Indonesia Pendidikan Anak Umur Awal atau seringkali disingkat PAUD tersebut bermula pada saat penjajahan Belanda. Bersamaan perjalanan saat kehadiran PAUD mulai disadari oleh pemerintah pada th. 1950 dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 4 th. 1950 mengenai Dasar-dasar Pendidikan serta Pengajaran di Sekolah. Di mana di dalamnya tertuang kalau PAUD yang ketika itu masih tetap dinamakan Taman Kanak-Kanak (TK) termasuk juga dalam System Pendidikan Nasional.

Pada th. itu jugalah berdiri satu organisasi yang dimaksud Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia (IGTKI) persisnya pada tanggal 22 Mei 1950 (Buku Kerangka Besar Pengembangan PAUD Indonesia Periode 2011-2025, Dirjen PAUDNI, Non Resmi serta Informal, Kemendiknas Th. 2011) .

Bermula dari sanalah instansi PAUD atau TK mulai dirintis hingga ke pelosok Negeri. Sekarang ini kita dapat lihat kehadiran PAUD atau TK jadi perhatian yang mengagumkan dari pemerintah serta orangtua yang diikuti dengan makin besarnya apresiasi masyakat untuk menyekolahkan anaknya semasing serta perhatian pemerintah baik dari bagian materil ataupun non materil mulai bertambah walau termasuk lambat bila dibanding dengan negara-negara maju yang lain.

Walau termasuk lambat tetapi kita percaya kalau kehadiran Pendidikan Anak Umur Awal di Indonesia adalah titik awal yang baik dalam melahirkan generasi emas dimasa mendatang. Generasi emas yang dapat jadikan satu bangsa besar yang pantas disegani oleh bangsa beda dimata dunia.

Tetapi semua perlu sistem. Semuanya elemen mesti berkerja sama juga dengan baik. Orang-orang, orangtua mesti mensupport program pendidikan yang diadakan di sekolah, demikian halnya demikian sebaliknya. Karna terang dalam Undang-Undang System Pendidikan Nasional Nomor 20 th. 2003 diterangkan kalau jalur pendidikan itu terdiri jadi tiga yakni pendidikan resmi, non resmi serta informal.

Pendidikan resmi yaitu pendidikan yang diadakan di sekolah. Mengenai pendidikan non resmi yaitu pendidikan yang diadakan di lingkungan orang-orang. Sedang pendidikan informal yaitu pendidikan yang diadakan dilingkungan keluarga. Ke-3 jalur itu mesti sama-sama isi, lengkapi serta sama-sama memberi nilai pendidikan yang mulia jadi pondasi awal kehidupan anak yang tambah baik.

Janganlah menginginkan anak dapat baik akhlak serta perilakunya saat orangtua cuma memberi tanggungjawab serta melepas seutuhnya pada sekolah tidak ada kesadaran dari orangtua mengenai perlunya pendidikan anak dalam keluarga. Demikian halnya demikian sebaliknya janganlah menuntut banyak pada sekolah saat orang-orang tidak dapat mendatangkan lingkungan yang mensupport untuk anak belajar mengerti tidak mati lewat pendidikan yang ada lingkungan orang-orang.

Ini perlu dipahami mengingat sekarang ini peranan keluarga seakan-akan mulai tergeserkan dari peranan yang sebenarnya.

Orangtua repot bekerja tetapi melupakan tanggung jawabnya sebagi pendidik pertama untuk anak-anak mereka. Orang-orang seakan-akan mulai acuh tidak acuh dengan pendidikan untuk anak yang didatangkan berbentuk lingkungan yang sarat dengan nilai-nilai positif. Di mana semuanya jadi sisi dalam pendidikan untuk anak jadi generasi emas bangsa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *