Pengertian Haji

Kata Haji berasal berasal dari bhs arab dan membawa arti secara bhs dan istilah. Dari aspek bhs haji bermakna menyengaja, berasal dari aspek syar’i haji bermakna menyengaja mengunjungi Ka’bah untuk mengerjakan ibadah yang meliputi thawaf, sa’i, wuquf dan ibadah-ibadah lainnya untuk memenuhi perintah Allah SWT dan mengharap keridlaan-Nya dalam era yang tertentu.

Hukum Ibadah Haji
Mengenai hukum Hukum Ibadah Haji asal hukumnya adalah perlu ‘ain bagi yang mampu. Melaksanakan haji wajib, yaitu karena memenuhi rukun Islam dan andaikata kami “nazar” yaitu seorang yang bernazar untuk haji, maka perlu melaksanakannya, lantas untuk haji sunat, yaitu dikerjakan pada kesempatan selanjutnya, sehabis pernah menunaikan haji wajib.
Haji merupakan rukun Islam yang ke lima, diwajibkan kepada tiap tiap muslim yang dapat untuk mengerjakan. jumhur Ulama sepakat bahwa mula-mulanya disyari’atkan ibadah haji berikut pada th. ke enam Hijrah, tapi ada terhitung yang menyebutkan th. ke sembilan hijrah.
Dalil / Perintah Tentang Ibadah Haji
1. Al-Qur’an
Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an1 Surat Ali Imran ayat 97, yaitu :
Ahmad Fakhruddin dkk, 2003, Al-Quran dan Terjemahannya
Artinya : “Padanya terkandung tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim[215]; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia pada Allah, yaitu (bagi) orang yang dapat mengadakan perjalanan ke Baitullah[216]. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak perlu sesuatu) berasal dari semesta alam”. (QS. Ali Imran : 97).
2. Hadits
Nabi bersabda di dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh imam Ahmad yang bermakna sebagai berikut :
“Dari ibnu Abbas, sudah bicara Nabi SAW : Hendaklah kamu bersegera mengerjakan haji, maka sesungguhnya seseorang tidak tidak akan menyadari, sesuatu halangan yang akan merintanginya”. (H.R. Ahmad)
Setiap orang hanya diwajibkan mengerjakan ibadah haji satu kali saja dalam seumur hidupnya, tapi tidak ada larangan untuk mengerjakan lebih berasal dari satu kali.
Syarat, Rukun, Wajib dan Sunat Haji
1. Syarat-syarat diwajibkannya Haji
• Islam
• Baligh
• Berakal
• Merdeka
• Kuasa (mampu}

2. Rukun Haji

Ihram yaitu berpakaian ihram, dan niyat ihram dan haji
Wukuf di arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah; yaknihadirnya seseorangyang berihram untuk haji, sesudahtergelincirnya mataahari yaitu pada hari ke-9 Dzulhijjah.
Thawaf yaitu tawaf untuk haji (tawaf ifadhah)
Sa’i yaitu lari-lari kecil pada shafa dan marwah 7 (tujuh) kali
Tahallul; bermakna mencukur atau menggunting rambut sedikitnya 3 helai untuk keperluan ihram
Tertib yaitu berurutan

3. Wajib Haji
Yaitu sesuatu yang perlu dikerjakan, tapi sahnya haji tidak bergantung atasnya, karena boleh diganti dengan dam (denda) yaitu menyembelih binatang. berikut kewajiban haji yang perlu dikerjakan :

Ihram berasal dari Miqat, yaitu Mengenakan busana Ihram (tidak berjahit), dimulai berasal dari tempat-tempat yang sudah ditentukan, terus menerus sampai selesainya ibadah haji.
Bermalam di Muzdalifah sehabis wukuf, pada malam tanggal 10 Dzulhijjah.
Bermalam di Mina selama2 atau 3 malam pada hari tasyriq (tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah).
Melempar jumrah ‘aqabah tujuh kali dengan batu pada tanggal 10 Dzulhijjah dikerjakan sehabis lewat tengah malam 9 Dzulhijjah dan sehabis wukuf.
Melempar jumrah ketiga-tiganya, yaitu jumrah Ula, Wustha dan ‘Aqabah pada tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah dan melemparkannya tujuh kali masing-masing jumrah.
Meninggalkan segala sesuatu yang diharamkan karena ihram.

4. Sunat Haji

Ifrad, yaitu mendahulukan urusan haji lebih-lebih dahulu baru mengerjakan atas ‘umrah.
Membaca Talbiyah yaitu :“Labbaika Allahumma Labbaik Laa Syarikalaka Labbaika Innalhamda Wanni’mata Laka Walmulka Laa Syarika Laka”.
Tawaf Qudum, yatiu tawaaf yuang dikerjakan disaat permulaan berkunjung di tanah ihram, dikerjakan sebelum akan wukuf di ‘Arafah.
Shalat sunat ihram 2 raka’at sehabis selesai wukuf, utamanya dikerjakan dibelakang makam nabi Ibrahim.
bermalam di Mina pada tanggal 10 Dzulhijjah
thawaf wada’, yaitu tawaf yang dikerjakan sehabis selesai ibadah haji untuk berikan selamat tinggal bagi mereka yang muncul Mekkah.
berpakaian ihram dan serba putih.
berhenti di Mesjid Haram pada tanggal 10 Dzulhijjah.

Cara Pelaksanaan Haji

1.Di Mekkah (pada tanggal 8 Djulhijjah)
1. Mandi dan berwudlu
2. Memakai kain ihram kembali
3. Shalat sunat ihram dua raka’at
4. Niyat haji :
“Labbaika Allahumma Bihajjatin”

e. Berangkat menuju ‘Arafah
membaca talbiyah, shalawat dan do’a :
Talbiyah : “Labbaika Allahumma Labbaik Laa Syarikalaka Labbaika Innalhamda Wanni’mata Laka Walmulka Laa Syarika Laka”.

2. Di Arafah
1. kala masuk Arafah hendaklah berdo’a
2. menanti kala wukuf
3. wukuf (pada tanggal 9 Djulhijjah)

Sebagai pelaksanaan rukun haji seorang jamaah perlu berada di Arafah pada tanggal 9 Djulhijjah meskipun hanya sejenak
kala wukuf dimulai berasal dari kala Dzuhur tanggal 9 Djulhijjah sampai terbit fajar tanggal 10 Djulhijjah
Doa wukuf

d. Berangkat menuju muzdalifah sehabis Maghrib

Agar tidak sangat lama menanti kala sampai lewat tengah malam (mabit) di Muzdalifah hendaknya jemaah meninggalkan Arafah sehabis Maghrib (Maghrib-isya di jama takdim)
Waktu berangkat berasal dari Arafah hendaknya berdo’a

3. Di Muzdalifah (pada malam tanggal 10 Djulhijjah)

Waktu sampai di Muzdalifah berdo’a
Mabit, yaitu berhenti di Muzdalifah untuk menanti kala lewat tengah malam sambil mencari batu krikil sebanyak 49 atau 70 butir untuk melempar jumrah
Menuju Mina

4. Di Mina
1. Sampai di Mina hendaklah berdo’a .
2. Selama di Mina kewajiban jama’ah adalah melontar jumroh dan bermalam (mabit)
3. Waktu melempar jumroh

melontar jumroh aqobah waktunya sehabis tengah malam , pagi dan sore. Tetapi diutamakan sehabis terbit matahari tanggal 10 Djulhijjah
melontar jumroh ketiga-tiganya pada tanggal 11,12,13 Dzulhijjah waktunya pagi, siang, sore dan malam. Tetapi diutamakan sehabis tergelincir matahari.
Setiap melontar 1 jumroh 7 kali lontaran masing-masing dengan 1 krikil
Pada tanggal 10 Djulhijjah melontar jumroh Aqobah saja selanjutnya tahallul (awal). Dengan selesainya tahallul awal ini, maka seluruh larangan ihram sudah gugur, kecuali menggauli isteri. sehabis tahallul tanggal 10 Djulhijjah kecuali ada kesempatan hendaklah pergi ke Mekkah untuk thawaf ifadah dan sa’i tapi perlu lagi pada hari itu terhitung dan tiba di mina sebelum akan matahari terbenam.
Pada tanggal 11, 12 Djulhijjah melontar jumroh Ula, Wustha dan Aqobah secara berurutan, lantas lagi ke mekkah. itulah yang dinamakan naffar awal.
Bagi jama’ah haji yang tetap berada di Mina pada tanggal 13 Djulhijjah diharuskan melontar ketiga jumroh itu lagi, selanjutnya lagi ke mekkah. itulah yang dinamakan naffar tsani.
Bagi jama’ah haji yang blm membayar dam hendaklah menunaikannya di sini dan bagi yang mampu, hendaklah memotong hewan kurban.

Beberapa permasalahan di Mina yang perlu diketahui jama’ah adalah sebagai berikut :

Masalah Mabit di Mina
Masalah melontar jumroh
melontar malam hari
melontar dijamakkan
tertunda melontar jumroh Aqobah
mewakili melontar jumroh

5. Kembali ke Mekkah
1. Thawaf Ifadah
2. Thawaf Wada
3. Selesai lakukan thawaf wada bagi jama’ah gelombang pertama, berangkat ke Jeddah untuk lagi ke tanah air.
A.6. Hikmah Melaksanakan Haji

-Setiap perbuatan dalam ibadah haji sesungguhnya punya kandungan rahasia, misal layaknya ihrom sebagai upacara pertama maksudnya adalah bahwa manusia perlu melewatkan diri berasal dari udara nafsu dan hanya mengahadap diri kepada Allah Yang Maha Agung.
-Memperteguh iman dan takwa kepada allah SWT karena dalam ibadah berikut diliputi dengan penuh kekhusyu’an
-Ibadah haji memberikan jiwa tauhid yang tinggi
-Ibadah haji adalah sebagai tindak lanjut dalam pembentukan sikap mental dan akhlak yang mulia.
-Ibadah haji adalah merupakan pernyataan umat islam seluruh dunia menjadi umat yang satu karena membawa persamaan atau satu akidah.
-Ibadah haji merupakan muktamar akbar umat islam sedunia, yang peserta-pesertanya berdatangan berasal dari seluruh penjuru dunia dan Ka’bahlah yang menjadi symbol kesatuan dan persatuan.
-Memperkuat fisik dan mental, kerena ibadah haji maupun umrah merupakan ibadah yang berat perlu persiapan fisik yang kuat, biaya besar dan perlu kesabaran dan juga ketabahan dalam hadapi segala godaan dan rintangan.
-Menumbuhkan motivasi berkorban, karena ibadah haji maupun umrah, banyak berharap pengorbanan baik harta, benda, jiwa besar dan pemurah, tenaga dan juga kala untuk melakukannya.Dengan -lakukan ibadah haji dapat dimanfaatkan untuk membina persatuan dan kesatuan umat Islam sedunia.

Artikel Terkait
Badal Haji & Travel Haji Umrah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *